Jumat, 21 Mei 2010

Sa'ad Bin Abi Waqash, Sang Panah Maut Islam


Diantara dua pilihan. Itulah mungkin kata yang tepat mewakili awal kisah dari Sa'ad bin Malik za-Zuhri alias Sa'ad bin Abi Waqash, ini adalah sebuah kisah tentang seorang sahabat yang pada masa Rasulullah Saw, dikenal sebagai prajurit pilihan.

Menurut Sa'ad bin Abi Waqqash, mencintai orang tua bukan berarti harus mengorbankan prinsip hidup.

Itu dilakukannya saat dia telah menerima Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, kemudian dia yakini, bahwa hanya Islamlah yang bisa membuat dirinya dan hidupnya bahagia ketimbang kembali menyembah berhala.

Lihatlah statementnya, yang sering dijumpai di sirah-sirah "Duhai bunda, meskipun ada seratus nyawa dalam diri bunda, dan terurai nyawa itu satu per satu, aku akan tetap pada agamaku. Sekarang terserah bunda, apakah hendak meneruskan perbuatan bunda atau hendak makan."

Ibu Sa'ad yang sangat mencintai Sa'ad juga, merasa kehilangan ketika anaknya lari meninggalkan sesembahan nenek moyang, dan menyembah Allah dan mentaati Rasulullah.

Untuk meluluhkan hati Sa'ad, ibundanya mengambil sikap untuk mogok makan, tapi nyatanya tak berkutik sedikitpun sikap Sa'ad untuk meninggalkan Agama Islam yang dibawa Rasulullah, mesikipun ia juga mencintai Ibundanya.

Selain itu, Sa'ad juga dikenal sebagai anggota pasukan berkuda yang lihai dan gagah berani. Soal memanah, dia adalah nomor satu.

Ada dua peristiwa yang menjadikan Sa'ad selalu dikenang dan istimewa, pertama dialah yang pertama melepas anak panah untuk membela Agama Allah, sekaligus orang pertama yang tertembus anak panah dalam membela Agama Allah.

Kedua, Sa'ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Sabda Rasulullah, Saw., pada saat perang Uhud : "Panahlah hai Sa'ad ! Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu ...."

Dalam setiap peperangan siapapun panglimanya jika ada Sa'ad didalamnya maka pasukan akan merasa tenang. Bukan hanya karena kehebatannya dalam peperangan yang menciutkan hati musuh, tapi juga ketaqwaanya yang luhurlah, yang menjadi hati sahabat lain menjadi tenang.

Pada saat perang Qadishiyyah, Amirul mukminin Umar bin Khaththab r.a. mengangkat Sa'ad sebagai Panglima perang untuk melawan adidaya Persia pada saat itu, ketika Sa'ad mengirim utusan untuk berdiplomasi dengan Rustum (panglima perang persia) yang akhirnya negoisasi itu berlangsung alot, dan muncullah pernyataan dari delegasi kaum muslimin.

"Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan dari kedhaliman penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediannya dan kami biarkan mereka. Tapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah ..!"

"Apa yang dijanjikan oleh Allah itu?" tanya Rustum, "Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi kami yang hidup". Sa'ad pun bangkit dan menggelorakan semangat jihad kaum muslimin, peperanganpun terjadi Rustum dan pasukannya menuai kekalahan, Persia yang adidaya itu akhirnya jatuh juga di tangan kaum muslimin. (ar/oq) www.suaramedia.com

Rabu, 19 Mei 2010

Jadilah Facebooker Yang Mukhlis

Jadilah Facebooker Yang Mukhlis

إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلن تجد له وليًا مرشدًا .
أما بعد : فإن خير الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار .


Saudaraku yang semoga dirahmati Allah,

Alhamdulillah, patut kita syukuri bersama, bahwa perkembangan teknologi semakin hari semakin canggih,
terlebih lagi di dunia maya ini sungguh sangat luar biasa sekali perkembangannya,
jangankan kita melihat 10 tahun atau 20 tahun kebelakang,
dalam jarak 1 bulan saja sudah banyak sekali dihasilkan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi ini, dan tentunya ini merupakan suatu kenikmatan dan kemudahan yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang patut kita syukuri bersama, sehingga dengan nikmat inilah banyak sekali manfa'at yang bisa kita rasakan,

Dan salah satu dari sekian banyak penemuan-penemuan yang ada, terutama di dunia maya ini yang tidak asing lagi bagi kita adalah situs jejaring sosial yang kita kenal dengan nama facebook,
siapa sih diantara kita yang tidak kenal dengan facebook, saya rasa hampir semua orang mengenalnya, dari pejabat tinggi sampai rakyat jelata, dari direktur perusahaan sampai tukang sapu, dari pengusaha sukses sampai tukang sayur, dari mahasiswa sampai murid SD bahkan sampai anak TK pun kenal dengan yang namanya facebook, Masya'Allah sungguh sangat luar biasa sekali.

Sehingga Subhanallah dengan adanya facebook ini sangat banyak sekali manfa'at yang bisa kita rasakan, seperti misalnya kita bisa saling mengenal satu sama lain, bisa saling menjalin ukhuwah, saling memberikan nasehat, begitu pula dalam hal dakwah alhamdulillah dengan adanya sarana ini dakwah semakin mudah untuk disebar luaskan,
(walaupun tentu tidak kita pungkiri banyak pula mudharat yang ada di dalamnya, tergantung motifasi dari pengguna itu sendiri)

Namun pada tulisan ini, saya hanya ingin membicarakan salah satu manfa'at dari facebook ini yang bisa kita pergunakan, yaitu sarana dalam rangka untuk menyebarkan dakwah,

Saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah ta'ala,
Mungkin kita sudah pada tahu bahwa seluruh fasilitas yang ada di dalam facebook bisa kita jadikan sarana untuk berdakwah, entah itu yang berupa status, catatan, video, grup, undangan, maupun yang lainnya,

Namun saudaraku sekalian,
yang harus selalu kita perhatikan ketika kita mempergunakan semua fasilitas tersebut, hendaknya kita berusaha membekali diri kita dengan ilmu,

Jangan sampai apa yang kita lakukan hanyalah perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat bagi kita atau bahkan mungkin justru akan menjadi bumerang buat kita sendiri nantinya,

Karena wajib bagi kita untuk berilmu, sebab ilmu adalah kunci dari segala sesuatu,
Al-imam Al-Bukhari menulis sebuah Bab di dalam kitab shahihnya yang beliau beri judul
Bab al-ilmu qablal qauli wal 'amal, berilmu sebelum berkata dan beramal,

Beliau mengisaratkan kepada kita bahwa wajib bagi siapapun untuk berilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal,
tidak terkecuali di dalam facebook ini, kitapun wajib untuk memiliki ilmu,
Apalagi berbicara tentang masalah agama, tentu kita harus berhati-hati dan harus memiliki ilmunya, tidak boleh sembarangan berbicara masalah agama tanpa ilmu, karena akibatnya akan fatal tentunya.

Kemudian saudaraku sekalian,
Selain berilmu hendaknya kita senantiasa bertaqwa kepada Allah ta'ala,
karena ketaqwaan kita akan membentengi diri kita dari hal-hal yang akan menjerumuskan diri kita kepada perkara yang tidak diredhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Saudaraku sekalian,
Mengapa demikian..?
karena setiap apa yang kita lakukan di facebook ini sangat berpotensi sekali untuk berbuat sesuatu yang akan menggelincirkan kita dari jalan Allah ta'ala, dan apabila kita memperhatikan dengan baik yaitu dengan kacamata syari'at maka kita akan melihat bahwa sangat banyak sekali didalam facebook ini hal-hal yang dapat menjerumaskan diri kita kedalam kebinasaan jika kita tidak membentengi diri kita dengan ilmu dan taqwa,

Salah satu hal perkara buruk yang akan kita bicarakan tersebut adalah ketidak ikhlasan dalam amalan yang kita lakukan.

Kita ambil contoh saja misalnya ketika kita membuat sebuah status di facebook, secara tidak sadar terkadang kita telah berbuat riya' atau tidak ikhlas dengan amalan kita,
seperti menceritakan keadaan kita yang sedang melaksanakan amal ibadah kepada Allah yang semestinya tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain,

Sekedar contoh, misalnya membuat status seperti ini:

"Alhamdulillah sebentar lagi maghrib.. buka pake apa ya..? bingung nyari makanan nih.. mamah lagi pergi..?"

Dan banyak lagi status-status lainnya yang serupa dan tidak penting, yang saya rasa status semacam ini tidak perlu dibuat atau disampaikan ke orang lain,
karena didalamnya cenderung terselip perasaan riya',

Kalaupun seandainya kita tidak bermaksud untuk riya' ?,
hal ini sebetulnya bisa menimbulkan prasangka buruk bagi yang membacanya,

Misalnya yang membaca akan berkata:

"Riya' amat sih ini orang.... pake cerita ke orang laen segala..., kalo mau buka..?
buka aja.. gak usah pamer amalan dan ngomong.. ke orang"

Dan prasangka-prasangka buruk lainya akibat dari status semacam ini,

Disamping itu saudaraku sekalian,
Diantara bentuk ketidak ikhlasan kita ketika membuat status adalah kita mengharapkan banyak yang akan memberikan jempol terhadap status yang kita buat tersebut, dan kita merasa gembira jika banyak yang memberikan jempolnya kepada kita dan merasa bangga dengan status tersebut karena banyak yang menyukainya, bahkan terkadang disertai dengan perasaan ujub,
akan tetapi ketika status kita tersebut sedikit atau bahkan tidak ada yang memberikan jempol kitapun merasa sedih dan kecewa,

Inilah sekedar contoh saja diantara bentuk ketidak ikhlasan yang sering muncul didalam hati kita dan masih banyak lagi yang lainnya, yang apabila hal ini kita biarkan maka akan membuat diri kita celaka, Nas-alullahas salamah wal 'afiyah,

Maka dari itu hendaknya mari kita lebih berhati-hati lagi dalam membuat sebuah status di facebook kita, jangan membuat status yang tidak penting, ataupun status yang justru akan merusak amal kita sendiri,
mari kita pikirkan masak-masak apa yang akan kita ucapkan, mengapa kita harus mengucapkan dan untuk apa kita harus mengucapkan, karena status yang kita buat di facebook bisa mencerminkan kepribadian kita sendiri, wallahu a'lam.
sekali lagi saudaraku mari kita selalu berhati-hati jangan sampai kita terjatuh kedalam perbuatan riya' yang akan merusak amalan kita dan mengakibatkan tidak mendapat pahala yang seharusnya kita dapatkan,

Ingatlah wahai saudaraku bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang
lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya'. dan enggan
(menolong dengan) barang berguna. (Q.S. Al Maa'uun : 4 - 7)

Dan juga Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersama-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu”.
dan juga di hadits qudsi yang lain Allah berfirman:
“Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan”
(HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Maka setiap amalan yang kita lakukuan yang tercampur dengan riya', tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala,

Saudaraku yang semoga Allah selalu melindungi kita,
kembali lagi ke pembicaraan awal, sebagaimana yang telah saya katakan diatas bahwa diantara manfaat facebook ini adalah sebagai sarana untuk menyebar dakwah,
terkhusus lagi dalam bentuk catatan,
dan saya gembira sekali karena banyak diantara ikhwah yang mempunyai ghirah dan semangat yang turut berusaha membantu menyebarkan dakwah melalui facebook ini dengan notes atau catatan-catatan yang mereka buat, sehingga banyak pula saudara-saudara kita yang tadinya belum mengenal syari'at dengan benar akhirnya mereka bisa mendapatkan hidayah mengetahui ajaran Islam dengan benar,

Namun perlu saya ingatkan kembali saudaraku sekalian yang semoga Allah merahmati kita,
bahwa syaithan selama-lamanya akan selalu menggoda manusia agar tergelincir dari jalan Allah ta'ala,
termasuk ketika kita membuat sebuah catatan di facebook ini,
dan mungkin hal ini tidak kita sadari, sebagaimana yang sudah kita bahas diatas ketika kita membuat status terkadang ada ketidak ikhlasan dalam hati kita, begitu pula ketika kita membuat catatanpun sangat berpotensi sekali untuk berbuat riya' wahai saudaraku,

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada saudaraku sekalian ketika kita membuat sebuah catatan, apalagi catatan yang berkaitan dengan agama, agar kita tidak terjerumaus kedalam kesalahan fatal yang akan menyebabkan kerugian besar bagi diri kita,

1.Hendaknya kita berilmu,

sebelum kita membuat sebuah catatan hendaknya kita faham betul materi tulisan yang kita buat, jangan sampai kita berbicara tanpa ilmu apalagi tentang perkara agama, jangan sampai kita berbicara sesuatu yang belum kita kuasai ilmunya dengan baik, karena berbahaya bagi diri kita dan juga orang lain,
dengan kata lain jangan kita berbicara melebihi batas kemampuan ilmu kita, kalo kita merasa bukan ahlinya lebih baik kita serahkan kepada yang lebih berhak untuk berbicara, jangan sampai kita termasuk yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari hadits Hudzaifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan muncul da’i-da’i yang menyeru ke Neraka jahannam, barangsiapa yang menerima seruan mereka maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam jahannam”. Hudzaifah bertanya: “Wahai Rasululah sebutkan ciri mereka?” Rasulullah menjawab : “Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita.”


Maka dari itu kalau kita tidak mengerti hendaknya diam atau bertanya kepada ahlinya,
Allah Ta’ala juga memerintahkan agar orang yang tidak mengetahui bertanya kepada orang yang mengetahui dalam firman-Nya:

Artinya: ”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. an-Nahl: 43)


2.Jujur dan amanah.

Hal yang sering kita lupakan, dan sering kali tidak jujur dengan catatan kita, terlebih lagi catatan yang bukan karya kita sendiri atau hasil copypaste, tidak jarang kita berbuat khianat alias tidak menyertakan sang penulis asli dalam catatan yang kita buat dan juga dari mana kita coppast, atau dari buku apa kita menyalin tulisan, entah karena lupa atau memang sengaja melakukannya, wallahu a'lam.

Karena dalam hal ini ada banyak kemungkinan yang mendorong seseorang melakukannya,
misalnya biar orang yang membaca catatan kita menganggap bahwa tulisan tersebut seolah-olah adalah hasil karya kita sendiri, dan kita tidak ingin orang lain mengetahui kalo tulisan tersebut hanyalah hasil copast saja, dan kalau memang artikel tersebut benar-benar cuman hasil copast mengapa kita harus malu untuk mengakuinya...?, Marilah kita belajar jujur dalam hal ini.

3.Hendaknya berusaha untuk ikhlas,

Sering juga kita terpeleset dalam hal ini, ketika kita membuat catatan sering timbul perasaan ingin dipuji, ingin supaya disebut berilmu, mencari popularitas dan lain sebagainya, dan ini jelas perkara yang akan menghancurkan diri kita sendiri nantinya.
dan pembahasan mengenai keikhlasan saya kira tidak perlu saya ulangi lagi, karena sudah jelas bahwa setiap amalan yang kita lakukan yang tidak disertai dengan keikhlasan maka amalan kita akan menjadi amalan yang sia-sia. Wallahu A'lamu Bishawab.


Demikian saudaraku sekalian uraian singkat yang bisa saya sampaikan, sekedar nasehat untuk saudaraku semua terutama buat saya pribadi untuk bahan muhasabah agar lebih bisa menjaga diri dari hal-hal yang akan menggelincirkan kita dari tuntunan Agama kita yang mulia,
walaupun sebenarnya sangat banyak sekali yang ingin saya sampaikan, namun karena saya tidak ingin berpanjang-panjang kalimat karena khawatir yang membacanya akan jemu,
untuk itu mohon ma'af atas segala kekurangannya, yang benar dari Allah Ta'ala dan yang salah dari saya pribadi yang dha'if dan dari syaithan,

Washallallhu 'ala Nabiyina Muhammad wa 'ala ahlihi wa shahbihi wa sallam, wa akhiru da'wana anilhamdulillahi Rabbil 'alamin.


Cileungsi, hari Rabu, 12 mei 2010 / 27 jumadil awwal 1431
Ditulis oleh hamba yang dho'if
Abu Hanifah Alim Al-bantuliy

Jumat, 12 Februari 2010

Nikmatkah valentine itu?


Kerusakan Hari Valentine Day


Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)
Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.
Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.
Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)
Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.
Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman
Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.
Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)
Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.
Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.
Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
مَا أَعْدَدْتَ لَهَا
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab,
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”
Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?
Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!
Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat
“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)
Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.
Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”
Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.
Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.
Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan
Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Penutup
Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”
Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 HYang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel muslim.or.id, dipublikasikan ulang oleh Rumaysho.com